Bahasa merupakan jati diri suatu bangsa. Bahasa menjadi identitas dan penanda budaya yang melekat pada diri penuturnya. Sebagai cerminan nilai luhur, budaya, dan kearifan lokal, bahasa menjadi pemersatu bangsa dan pembentuk karakter individu. Dalam bahasa ini pula diwariskan sejarah dan tradisi masyarakat, sehingga penting untuk mempertahankan eksistensi bahasa dalam komunikasi sehari-hari. 

Sebagai masyarakat Jawa, masyarakat di Kalurahan Selomartani umumnya menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Jawa dituturkan oleh seluruh kalangan dari para orang tua hingga anak-anaknya. Sebagai bahasa sehari-hari, bahasa Jawa dituturkan secara turun temurun sebagai bahasa ibu. Para orang tua sudah membiasakan anaknya berbahasa Jawa sedari kecil. Aksara Jawa juga masih digunakan misalnya pada papan nama kantor kalurahan dan pelat-pelat nama ruangan. 

Bahasa Jawa bukan satu-satunya media komunikasi. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional juga dituturkan oleh masyarakat. Bahasa Indonesia umumnya dianggap sebagai bahasa formal, sehingga penuturannya lebih kepada saat situasi resmi dan situasional dengan lawan bicara. Sementara, bahasa Jawa yang lebih umum dituturkan oleh masyarakat, penggunaannya meliputi komunikasi sehari-hari, saat rapat / musyawarah, pengumuman / undangan (atur-atur), acara desa, dan lain sebagainya. 

Bahasa Jawa memiliki tingkatan kesopanan. Bahasa Jawa digunakan juga dengan memperhatikan lawan bicara. Ragam tingkatan bahasa Jawa meliputi : 

– Bahasa Jawa Krama Alus / Inggil 

– Bahasa Jawa Krama Lugu 

– Bahasa Jawa Ngoko Alus 

– Bahasa Jawa Ngoko Lugu  

Dengan tingkat kesopanan yang paling sopan dari Krama Alus ke Ngoko Lugu.  

Penggunaan bahasa Jawa ini menunjukkan unggah-ungguh (tata krama) masyarakat Jawa. Penggunaan bahasa Jawa misalnya apabila berkomunikasi dengan teman sebaya umumnya menggunakan bahasa Jawa ngoko. Sementara jika berkomunikasi dengan yang lebih tua, yang disegani, atau dihormati, umumnya menggunakan bahasa krama. Juga dalam penyampaian atur-atur (undangan / pengumuman) misalnya lelayu atau duka cita, umumnya disampaikan dengan bahasa krama karena disampaikan kepada semua kalangan baik yang sudah tua maupun yang masih muda. Hal ini menunjukan sopan santun dalam berbahasa.