Di Padukuhan Sindon terdapat makam yang merupakan makam pendahulu atau cikal bakal Padukuhan Sindon. Masyarakat mengenal makam ini sebagai Makam Raden Sindupati atau juga disebut sebagai Makam Mbah Corowo. Makam Mbah Corowo berada di sisi Barat Padukuhan Sindon dekat Dusun Kertirejo, tepat di sebelah Timur Sungai Besar. Makam ini dibuatkan struktur dengan atap joglo untuk melindungi makam dan memfasilitasi warga yang datang untuk berziarah. 

Makam Mbah Corowo ada 2 buah. Kedua makam ini adalah satu pasang, berupa makam kakung dan makam putri. Makam Kakung berada di sebelah Utara, sedangkan Makam Putri berada di sebelah Selatan. Masyarakat Padukuhan Sindon masih aktif berziarah mengunjungi makam. Masyarakat akan mengadakan tradisi Tahlilan dan melaksanakan doa bersama untuk Mbah Corowo. Tahlilan ini diadakan rutin setiap Hari Rabu Pon pada malam hari. Tahlilan rutin ini dilaksanakan agar masyarakat tetap bisa melakukan ziarah dan tidak melupakan keberadaan Makam Mbah Corowo. 

Makam ini pun menyimpan cerita dan menjadi latar belakang penamaan Padukuhan Sindon. Nama “Sindon” berasal dari nama pendahulu sendiri yaitu Mbah Sindu. Karena Mbah Sindu yang menjadi pendahulu babat alas, maka Padukuhan dinamakan Padukuhan Sindon. Makam Sindupati disebut juga sebagai Makam Mbah Corowo karena menurut penuturan oang-orang tua, Mbah Sindu dulu tinggalnya di daerah rawa (rowo). Diceritakan juga bahwa kisah Mbah Corowo ini berkaitan dengan Dusun Kertirejo di Padukuhan Sambirejo. Dikatakan bahwa Mbah Corowo mempunyai kesaktian. Mbah Corowo memiliki tongkat yang dapat memindahkan sungai. Di sebelah Barat Dusun Kertirejo terdapat sebuah sungai. Karena dahulu jauh dari sungai, Mbah Corowo memindahkan sungai ini dan membuka aliran sungai baru di wilayah Sindon. Dari situ pula Dusun Kertirejo menjadi berada di tengah-tengah dua sungai, diantaranya Sungai Kuning di Barat dan Sungai Besar di Timur. 

                  Makam Putri – Makam Kakung