Tirakatan berasal dari kata “tirakat”, yang dalam budaya Jawa memiliki arti ngengurangi atau maksudnya mengurangi perbuatan yang buruk. Dalam hal ini masyarakat akan melaksanakan doa bersama dan memperbanyak berdzikir. Tirakatan dilaksanakan pada malam hari menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia. Pada malam hari itulah masyarakat akan “lek-lek an” atau begadang untuk melaksanakan tirakat. Adat Tirakatan ini juga menunjukkan rasa syukur dan sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. 

Tirakatan secara rutin diadakan padukuhan-padukuhan di Kalurahan Selomartani. Masyarakat biasanya akan mengadakan pengajian dan melaksanakan doa bersama. Kemudian acara akan dilanjutkan dengan pertunjukan seni misalnya hadroh, seni tari, dan kesenian lainnya. Tradisi Tirakatan ini akan mempererat solidaritas antarwarga. Masyarakat dapat bertemu dan berkumpul untuk memperkuat silaturahmi.