Tahlilan merupakan salah satu ritual dalam masyarakat Jawa terkait daur hidup manusia. Tahlilan diadakan saat seseorang meninggal dunia. Tradisi ini merupakan salah satu bentuk kepedulian masyarakat atas seseorang yang meninggal dunia. Ini juga berkaitan dengan ajaran Islam saat ada seseorang yang meninggal. Umat Muslim memiliki kewajiban untuk memandikan, mengkafani, menshalatkan, menguburkan jenazahnya, serta mendoakan untuk mendapatkan rahmat Allah SWT. Tahlilan sendiri berasal dari kata “tahlil”. Tahlil adalah suatu bacaan tauhid yang berbunyi “La ilaha ilallah” yang berarti tiada Tuhan selain Allah. Dari situlah Tahlilan diartikan sebagai ritual untuk mendoakan orang yang meninggal dengan berdzikir bersama membacakan kalimat tahlil. Tahlilan pun dihadiri masyarakat secara umum baik laki-laki maupun perempuan, juga kerabat hingga tokoh masyarakat.
Dalam ritual Tahlilan terdapat beberapa rangkaian acara. Tahlilan akan diawali dengan sambutan dari keluarga yang berduka dengan pujian kepada Allah dan membaca Al-Fatihah karena dapat melaksanakan doa bersama. Pujian ini juga dilakukan agar acara dapat berjalan dengan lancar. Kemudian acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat dalam Al-Quran, Surat Yasin, dan doa bersama dipimpin oleh tokoh agama di masyarakat. Setelah doa bersama kemudian dilanjutkan dengan berdzikir membaca tahlil dan sholawat. Setelah selesai, acara ditutup dengan doa untuk almarhum dan keluarga.
Tahlilan tidak hanya dilakukan sekali. Tahlilan biasanya dilaksanakan selama satu minggu setelah kematian seseorang. Selebihnya, Tahlilan juga dilakukan saat peringatan 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari kematian. Prosesi yang dilaksanakan sama, membaca doa berrsama dan tahlil untuk almarhum. Masyarakat pun biasanya akan membantu keluarga duka dalam persiapan dan prosesi tahlilan, misalnya Sinoman untuk membantu menyuguhkan hidangan bagi masyarakat yang hadir Tahlilan.
Masyarakat Sindon melaksanakan Tahlilan di Makam Raden Sindupati atau Makam Mbah Corowo. Makam Mbah Corowo merupakan makam pendahulu di Padukhan Sindon. Meskipun sudah terlampau jauh dan tidak terikat silsilah, masyarakat Sindon tetap melaksanakan Tahlilan dan mendoakan Mbah Corowo. Tahlilan ini diadakan setiap Malam Rabu Pon yang tujuannya agar masyarakat tidak melupakan adanya Makam Mbah Corowo.
