Di sisi bagian Barat Kalurahan Selomartani terdapat Padukuhan Sambirejo yang dilewati oleh Sungai Kuning atau Kali Kuning. Sama seperti padukuhan lain di Kalurahan Selomartani, Sambirejo juga memiliki latar belakang dalam penamaannya, barang hanya sedikit cerita. Diceritakan oleh bapak Giyanto selaku dukuh Sambirejo, nama Sambirejo diambil dari nama pohon yaitu pohon sambi. Kemudian kata “rejo” ditambahkan sehingga namanya menjadi Sambirejo. Kata “rejo” sendiri diambil dari bahasa Jawa yang memiliki arti makmur atau sejahtera. Penamaan Sambirejo memiliki harapan bahwa desa yang ditinggali akan rejo atau sejahtera. 

Di Padukuhan Sambirejo terdapat dusun bernama Kertirejo. Dusun ini juga memiliki sejarah penamaan. Latar belakang penamaan Dusun Kertirejo berkaitan dengan keberadaan Sungai Kuning dan keberadaan Makam Mbah Corowo di Padukuhan Sindon. Bapak Dukuh Sambirejo juga menceritakan bahwa dahulu, Sungai Kuning yang menjadi aliran lahar Gunung Merapi saat erupsi, seringkali membawa bencana banjir ke pemukiman warga. Warga yang berada di sekitar Sungai Kuning itu pun menjadi merasa takut, khawatir dan was-was dengan peristiwa bencana. Masyarakat Jawa menyebut perasaan khawatir tersebut “ketar-ketir” yang juga berarti merasa ketakutan. Kemudian pada masa itu, diceritakan bahwa Mbah Corowo memiliki kesaktian berupa kemampuan memindahkan sungai dengan tongkatnya. Agar wilayah kertirejo menjadi “rejo” atau makmur, maka sungainya dipindahkan oleh Mbah Corowo. Dari situlah nama Dusun ini menjadi Dusun Kertirejo. Selain itu diceritakan juga bahwa di sepanjang sungai di Padukuhan Sambirejo terdapat banyak batu petilasan. Batu-batu ini diyakini “dipasang” sebagai penangkal banjir. Batu petilasan ini ukurannya bervariasi dan yang besar berukuran hingga 5-6 meter. Batu-batu ini pun dikatakan masih banyak yang terpendam di sekitar pemukiman warga.