Masuknya Islam membawa akulturasi budaya dalam masyarakat Jawa. Tradisi yang sudah ada bercampur dengan kepercayaan Islam dan menjadi tradisi yang lebih baru. Salah satu tradisi yang terlahir dari akulturasi budaya Jawa dan kepercayaan Islam adalah tradisi Sadranan. Sadranan juga biasa disebut sebagai Ruwahan. Hal ini dikarenakan Sadranan dilaksanakan pada bulan Ruwah atau sasi Ruwah. Bulan Ruwah atau sasi Ruwah adalah penyebutan oleh masyarakat Jawa untuk bulan Sya’ban dalam kalender Hijriyah.
Sadranan adalah sebuah tradisi ritual di mana masyarakat akan menyelenggarakan kenduri, ziarah kubur, dan melaksanakan doa bersama. Sadranan yang juga disebut Ruwahan ini bertujuan untuk mendoakan arwah leluhur. Ini berkaitan dengan nama bulan Ruwah yang berasal dari kata “arwah”. Masyarakat akan melaksanakan ziarah kubur untuk mendoakan leluhur atau keluarganya yang sudah meninggal. Sadranan juga umum disebut sebagai Nyadran atau melaksanakan Sadranan. Masyarakat di Kalurahan Selomartani masih terus menjaga tradisi Sadranan dengan baik dan dilaksanakan secara rutin.
Tanggal pelaksanaan tradisi Sadranan berbeda-beda. Sadranan ada yang dilakukan di tanggal 21 Ruwah (selikuran), 23 Ruwah (telu likuran), 26 Ruwah (nem likuran), dan tanggal lainnya. Tanggal kapan Sadranan akan dilakukan ini berbeda di tiap padukuhan atau di tiap makam. Penentuan tanggal pelaksanaan sudah menjadi tradisi atau kesepakatan turun temurun sejak dahulu. Biasanya jika suatu desa atau padukuhan tidak memiliki makam (pemakaman tergabung dengan makam desa atau padukuhan lain), maka tanggal Sadranan akan mengikuti. Misalnya menurut informasi bapak Teguh selaku Rois Padukuhan Salakan, Sadranan di Makam Kowang dilaksanakan pada tanggal 23 Ruwah, di Makam Soman tanggal 24 Ruwah, di Makam Gatak tanggal 20 Ruwah, dan yang lainnya.
Pelaksanaan Sadranan juga bisa berbeda-beda, ada yang menggunakan gunungan dan kirab, atau sekedar menyelenggarakan kenduri dan doa bersama. Beberapa padukuhan di Kalurahan Selomartani yang menyelenggarakan kirab gunungan Sadranan misalnya Padukuhan Kauman, Padukuhan Pondok, dan Padukuhan Kledokan. Bahkan Padukuhan Kauman menyelenggarakan Sadranan dengan digabung bersama Padukuhan Sambirejo. Acara Sadranan di Padukuhan Kauman dimulai dengan kirab budaya yang diikuti oleh gabungan berbagai dusun. Kirab budaya ini diiringi oleh bregodo atau prajurit yang membawa gunungan dari masing-masung dusun. Selain gunungan, masing-masing dusun juga membawa jodhang yang berisi makanan. Kirab ini berjalan beriringan mengelilingi kampung dan berakhir di Makam Kauman. Setelah kirab gunungan, kegiatan selanjutnya adalah pelaksanaan tabur bunga di makam pendahulu atau cikal bakal Makam Kauman, yaitu makam Kyai Rujak Beling. Acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan oleh para panitia dan pejabat desa. Setelah kegiatan selesai, acara Sadranan di Makam Kauman ditutup dengan acara rebutan gunungan.

