Secara bahasa rewang berarti tolong-menolong atau saling membantu. Dalam tradisi rewang, hal ini diartikan sebagai kegiatan tolong menolong orang yang sedang punya acara. Kegiatan rewang biasanya dilakukan apabila tetangga ada yang hendak melaksanakan resepsi pernikahan, kenduri, tahlilan, atau acara lainnya. Para warga (umumnya ibu-ibu) akan membantu tuan rumah dalam kegiatan memasak. Acara yang besar akan dihadiri banyak orang, maka dari itu para ibu rumah tangga akan berkumpul untuk memasak bersama-sama untuk porsi yang besar.
Tradisi rewang juga seringkali dilaksanakan saat hari besar misalnya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Dalam hal ini masyarakat tidak terlepas dari semua kalangan (baik pria maupun wanita) akan saling membantu dalam perannya masing-masing. Bagi pria, mereka akan mengurus penyembelihan hewan kurban, sementara para wanita akan mengurus daging yang kemudian akan dibagikan. Tak jarang juga para wanita akan memasak daging kurban yang disembelih untuk dimakan bersama-sama.
Dari kebersamaan tersebut tradisi rewang akan meningkatkan solidaritas dalam masyarakat. Masyarakat akan dapat bertemu satu sama lain. Mereka dapat mengobrol, bersenda gurau, sembari mempersiapkan acara bersama-sama. Dengan adanya tradisi rewang ini juga menunjukkan bahwa masyarakat saling memerlukan satu sama lain. Tradisi rewang pun menunjukkan sikap gotong-royong dalam masyarakat.