Suran Singokerti merupakan upacara adat yang diselenggarakan untuk memperingati Ki Ageng Singokerti dan tahun baru yang jatuh pada bulan Sura pada kalender Jawa. Suran singokerti merupakan upacara adat tahunan yang diselenggarakan warga daerah Grumbulgede, Selomartani, Kec. Kalasan, Kabupaten Sleman. Unsur yang harus ada pada upacara ini adalah kegiatan nyekar ‘tabur bunga’ pada makam Ki Ageng Singokerti dan gunungan yang pada upacara dibawa oleh bregada ‘pasukan prajurit ala Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat’.

Pada acara Suran Singokerti, kegiatan terpusat pada kegiatan kirab budaya. Pada perkembangannya, dibuat kegiatan lain untuk memeriahkan seperti lomba dan pentas. Dalam kirab budaya Suran Singokerti terdapat rangkaian acara berupa kirab itu sendiri dari Balai Desa Selomartani menuju ke Masjid Abdul Latif yang dianggap merupakan masjid tertua di Kecamatan Kalasan dan tabur bunga pada makam Ki Ageng Singokerti. Terdapat gunungan yang berisi makanan tradisional pada kirab budaya. Gunungan dimaksudkan sebagai sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan atas karunia dan keberkahan yang diberikan. Gunungan apem dibawa pasukan bregada Singo Kerti dari Kowang Grumbulgede. Gunungan berisi telur dibawa bregada Sela Aji dari Kledokan, Selomartani. Sementara itu, Gunungan berisi jajan pasar dibawa bregada Jaya Wilapa dari Jelapan, Wedodomartani, Ngemplak. Terbentuk ekosistem budaya yang tidak hanya dari satu wilayah saja untuk dapat menyelenggarakan Suran Singokerti ini.

Sejarah

Upacara adat Suran Singokerten dengan kirab budaya yang lengkap dimulai sejak 2008. Upacara adat ini diselenggarakan untuk memperingati Ki Ageng Singokerti yang merupakan tokoh penyebar agama Islam. Ki Ageng Singokerten dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai ulama pencipta kitab kuning “Iman Sudjono” dengan huruf Arab Gundul (tanpa harakat).

Suran Singokerten ini layaknya upacara suran pada umumnya yang muncul dari percampuran tradisi Jawa dan Islam. Secara khusus suran ini merupakan selamatan yang memiliki kaitannya dengan hari-hari Islam. Harapannya dengan menyelenggarakan selamatan atau kegiatan spiritual lain pada hari baik, masyarakat akan terhindar dari keburukan yang menimpa. Sura merupakan bulan pertama diantara 12 bulan   dalam   kalender   Jawa   yang   meliputi Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, Besar. Sura atau bertepatan dengan bulan Muharram di penanggalan Hijriah dianggap sebagai awal tahun yang mulia serta lekat dengan haramnya melakukan perang dan merupakan bulan peringatan hijrah.

Upacara ini menarik karena menandai kuatnya Islamisasi di Indonesia. Sama seperti ritus yang lain, upacara ini juga untuk bersyukur dan berterima kasih. Berdoa untuk Ki Ageng Singokerten adalah bentuk modifikasi untuk menghindari tuduhan musyrik. Sehingga orang-orang bukan memohon sesuatu dari makam tersebut, melainkan memohon pada Tuhan untuk Ki Ageng Singokerten. Sehingga dari upacara ini terlihat bagaimana negosiasi dan adaptasi itu memunculkan rangkaian yang religius namun juga tetap profan.